Beranda Daerah Penutupan PT. INDEXIM UTAMA, Perwakilan Kaharingan Telah Laksanakan Apel HUT RI Ke...

Penutupan PT. INDEXIM UTAMA, Perwakilan Kaharingan Telah Laksanakan Apel HUT RI Ke – 75, Dan Ritual Adat

633
BERBAGI

Muara Teweh,(RADARNEWS ID)-Pada Jum’at 21 agustus 2020. Akibat Pengrusakan wilayah Sakral Gunung Pi-Yuyan yang dilakukan oleh Perusahaan Kayu PT. Idexim Utama, Diwilayah Desa Mea, Kecamatan Gunung Purei, Kabupaten Barito Utara, Propinsi Kalimantan Tengah,pada hari rabu/19/08/2020. Perwakilan Umat Kaharingan telah melaksanakan Apel Memperingati hari Kemerdekaan RI Ke -75 dan sekaligus melaksanakan Ritual (Hompong Pali Mara) Penutupan terhadap kegiatan operasional perusahaan.

Selain dari beberapa orang perwakilan umat Kaharingan, yang diundang tidak terlihat pihak pemerintahan dan haya satu orang Sacurity dari pihak PT. Indxim Utama.

Pada kegiatan tersebut dihadiri juga oleh beberapa orang pihak anggota kepolisian yang dipimpin lansung oleh Ipda Kuslan selaku Kapolsek Kecamatan Gunung Purei dan terlihat hadir satu orang TNI, Babinsa dari kuramil setempat. sesuai undangan selain dari dari hanya bertugas selaku keamanan mereka tidak ikut upacara baris- berbaris

“Kami dari pihak kepolisian hadir hanya selaku pengaman, “Kami tidak ada hak untuk ikut berbicara Selain dari Pengamana paling bisa hanya untuk memediasi agar masalah bisa secepatnya diselesaikan kata Ipda Kuslan.

Pelaksanaan Apel dan Ritual dipimpin oleh Sukarni selaku Perwakilan Umat Kaharingan dari Kabupaten Barito Utara dan Jurmain selaku mewakili dari Kabupaten Barito Selatan, selain itu dihadiri juga beberapa orang perwakikan dari Palangka Raya dan wilayah Kahayan

Sukarni menjelaskan Kenapa upacara ini kami mengibarkan Empat macam bendera, ” Pertama Bendera Merah Putih Adalah Lambang Kemerdekaan NKRI, dan kita harus tunduk dan patuh didalam Kemerdekaan yang diperjuangkan para pahlawan terdahulu, karena mereka jugalah hingga wilayah sakral gunung Piyuyan dapat terjaga, Yang ke Dua bendera Merah, Kuning, Biru adalah Bendera Dayak Besar’ kerna juga borneo atau pulau dayak ini sudah merdeka bersama-sama dengan kemerdekaan NKRI, Bendera ke Tiga yang Berwarna Hitam Putih, ini adalah bendera lambang Kaharingan, kerna Kaharingan adalah Agama dan kepercayaan leluhur bagi suku dayak terutama umat Kaharingan, adapun bendera hitam dan putih lainya ini adalah bendera ritual yang melambangkan kehidupan dan kematian bagi umat kaharingan.

Sukarni Menambahkan Setelah terpasang Hompong Pali ini, bagi kami umat Kaharingan tidak adalagi kata-kata pembukaan oleh siapapun, sekalipun terbuka secara kasat mata oleh oknum perusak’ kecuali masalah sudah klir dari Empat jenis tuntutan (Bertahap), akibat kerusakan Wilayah Sakral Gunung Piyuyan. Kata Sukarni

Adapun dengan hanya beberapa orang perwakilan yang hadir hari ini memang karena kami batasi kerna sekarang ini musim wabah Covid -19, terkait dengan undangan dan seruan aksi itu adalah sebagai syarat agar semua umat dan tokoh kaharingan Se-Dunia mengetahuinya, namun rata-rata setelah menghubungi saya, saya sarankan bahwa untuk mewakili biar saya dan warga terdekat yang mewakili melakukan upacara penutupan, kecuali saya tidak ditanggapi maka saya pasti lepas tangan dan menyerahkan kewenangan kepada semua umat Kaharingan masing-masing. Tambah Sukarni

Jurmain selaku perwakilan dan juga selaku Dewan Adat Dayak (DAD) Desa Ngurit, Kecamatan Bintang Awai, Kabupaten Barito Selatan, ditempat yang sama setelah bersama-sama memimpin Upacara dan Ritual, dia menjelaskan, Gunung Piyuyan adalah kaki Gunung Lumut, yang diketahui adalah palang pintu terahir untuk masuk kesurga bagi leluhur umat kaharingan, disanalah tempat suci bagi aruwah (Liau) nenek moyang kami terdahulu yang kami ketahui mereka juga adalah pejuang-pejuang NKRI, oleh kerna itu kita wajib melindunginya turun-temurun hingga masyarakat sekitarpun sangat menghargai dan menghormati, mereka tidak pernah menebang pohon dengan leluasa bahkan tidak pernah membuat ladang pada wilayah sakral yang sudah berabad-abat dilindungi.

Kami melakukan ritual, bersama-sama meminta kepada Dewa Kalilungan, Aning Kalilio, Ju’us Tuha Alah Ta’ala, bahwa bagi siapapun yang membuka Hompong Pali Mara yang telah terpasang, tampa seijin, mereka siapapun’ akan terkena sumpah dan agar para arwah terdahulu membawanya kepada kematian bersama-sama dengan Roh Leluhur Nenek moyang kami terdahulu bahkan anak keturunan merekapun mendapatkan siksa dunia akhirat, karena memang begitulah sebetulnya sumpah dan kepercayaan Kaharingan. Kata Jurmain selaku ketua (DAD) desa ngurit,.

Dia juga menambahkan dalam bercerita, sebetulnya Hukum Adat Dayak terdahulu adalah, Bagi siapa pelaku penjual utus, Perusak utus, yang terbukti berhianat terhadap utus seumpama menuntut untuk memperkaya diri atau melakukan, Hukum Adatnya seseorang manusia dijadikan ganti hewan korban untuk di Blontang pada petugur dan di ritualkan bersama-sama. Ujar Jurmain

Ditempat berbeda, usai memimpin Rapat dukungan terhadap Perwakilan Umat Kaharingan yang diutus untuk menutup dan menuntut PT. Indexim Utama, Bulat selaku Ketua Adat Desa Tongka, menyampaikan, “tetap mendokong upaya tuntutan warga masyarakat desa Mea sebelumya, asalkan tuntutan mereka sesuai dan sewajarnya karena mereka yang memiliki kewenangan wilayah desa sekalipun kami selaku desa yang berbatasan tidak pernah diundang dan diberitahukan dalam sidang tuntutan mereka, tetapi kami tidak mendukung jika tuntutan hanya untuk memperkaya diri atau yang disebut penjual Utus, selain itu kami juga sangat mendokong upaya tuntutan yang sekarang mewakili umat Kaharingan Se-Dunia, karena Gunung Lumut dimiliki oleh orang banyak, tidak pernah orang melakukan upacara ritual kematian dari berbagai daerah dan wilayah menunggu meminta ijin dari tokoh-tokoh atau masyarakat di desa Mea dulu baru boleh meninggal atau melaksanakan rukun kematian, tetapi apapun bentuknya mereka kuasa wilayah jadi wajar semua harus diakui tuntutanya. Kata Bulat.

(HERTOSI/TIM).