Beranda Daerah Sorrogate Mother Cermin Miskin Iman Melawan Hukum Tuhan

Sorrogate Mother Cermin Miskin Iman Melawan Hukum Tuhan

242
BERBAGI
Poto : Asst. Prof. Dr. Edi Ribut Harwanto S.H., M.H.

Kota Metro,(radarnews.id)-Surrogate Mother (ibu pengganti) bayi tabung dalam perspektif etika dan hukum dalam dikancah dunia internasional sedang trending khususnya kaum wanita karir yang memiliki latar belakang trauma atas hubungan kompul kebo dan disakiti laki laki. Wanita dari komunitas ini biasanya lebih memilih hamil dengan pola bayi tabung yang mengunakan sperma orang yang tidak dikenal. Dan atau alasan pasangan suami istri sengaja , suaminya menitip janin di rahim wanita lain dengan pola kontrak perjanjian.

Materi hukum acara perdata peradilan agama dipandu ketua DPD IKADIN Provinsi Lampung Penta Peturun S. Sos., S. H. C. Me, menanyakam tentang hak asuh anak pasangan kumpul kebo yang bersengketa soal anak yang dilahirkan.

Sorrogate mother merupakan pertanyaan dari salah satu peserta pendidikan kemahiran advokat yang berada pada ruang lingkup hukum acara perdata pada pengadilan agama.

Tren itu banyak terjadi dinegara negara maju di dunia. Hal itu dikatakan Asst. Prof. Dr. Edi Ribut Harwanto S.H., M.H.dosen Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Metro di ruang kerjanya , saat menjadi pembicara dan nara sumber Pendidikan Kemahiran Advokat DPD Ikatan Advokat Indonesia (IKADIN) Provinsi Lampung Kamis (26/8/2021) pagi tadi.

Kata Edi, ibu penganti banyak terjadi di Cina, India, Bangladesh, Pakistan. Penyewaan rahim terhadap rahim seseorang wanita disana dengan alasan faktor ekonomi yang sulit, sementara oleh penyewa sumber benih berasal dari negara maju Amerika dan Ingris. Mereka takut penampilan dari faktor estetika, jika melahirkan takut badanya rusak jelek dan tidak menarik lagi sehingga ia menyewa rahim orang lain dengan perjanjian dan imbalan materi yang lumayan mengiurkan.

Dengan gestational agreement tersebut menjadi hukum bagi keduanya diluar negeri. Bagaimana until di Indonesia, UU Kesehatan No 46 Tahun 2009 tentang penyelengaraan pelayanan teknologi reproduksi buatan hanya memperbolehkan pembuahan diluar rahim terbatas pada pasangan suami istri yang terikat perkawinan yang sah pasal (4). Ancaman bagi tenaga medis yang melakukan surrogate mother dipandang dari sudut etika dan agama bertentangan dan dilarang. Bibit janin laki pasangan suami istri, di tanamkan benih janin ke rahim wanita lain. Jelas agama melarang dan masukw katagori zina dan mnngaburkan nazab keturunan menjadi tidak jelas. Maka agama melarang tindakan itu.

Ada yang secara mandiri ingin punya keturunan tanpa ada suami tingal menanamkan benih janin nyang dibeli dari dokter dokter membidangi. Ada juga pasangan suami istri, yang sengaja menanmkan benih janin pasangan suami ditanamkan rahim wanita yang sewa dengan perjanjian setelah melahirkan anak tersebut harus diserahkan kepada pasangan suami istri tersebut.

“Jadi harus dipahami para calon pengacara subtansi masalah, dalam melihat sebuah masalah harus teliti cermat agar nanti ketika menjadi advokat memahami hukum acara dengan baik dan berlatih melakukan identifikasi, rull, analysis conclusions dalam tiap masalah. Rajin membaca buku hukum acara agar memudahkan dalam beracara, “kata Edi

Mengenai anak dari hasil zina kumpul kebo, saat ini seorang laki laki memiliki tangung jawab terhadap anak yang lahir dari sebuah pelacuran sekalipun. Mahkmah Konstitusi sdah melakukan yudicial review salah satu pasal dalam UU Perkawinan, bahwa hak keperdataan anak bukan hanya kepada ibu tapi juga ke bapak ayah biologisnya. Jika anak lahir dari perzinahan misal wanita ingin menuntut hak ekonomi pendidikan kesehatan, tingal wanita itu melakukan tes DNA, lalu setelah cocok ada kemiripan DNA tingal ajukan permohonan pengadilan agama untuk menuntut pertangung jawaban ayah biologisnya.

(Red).