Beranda Daerah Gempar! Kasus Pembullyian di SMAN 4 Metro Dilaporkan Ke Polres

Gempar! Kasus Pembullyian di SMAN 4 Metro Dilaporkan Ke Polres

78
BERBAGI

METRO // RADARNEWS.ID

Dunia pendidikan di “kota pendidikan” Metro kembali diterpa persoalan yang membuat masyarakat menjadi geram, akibat tindakan pembullyian siswa sudah berjalan hampir satu tahun lebih. Juga, membuat orangtua korban bullyian melaporkan masalahnya ke Polres Kota Metro.

Laporan diterima pihak PPA Polres Metro atas laporan pihak keluarga yang diserahkan kepada advokat, Fauzi, SH, MH pada, Seniun (18/5/2026). Surat penerimaan laporan bernomor 79 tanggal 18 Mei 2026 itu, membuktikan pihak korban menganggap praktik pembullyian di SMAN 4 Metro sudah sangat serius.

Usai melaporkan kasus tersebut, kuasa hukum keluarga korban Fauzi, SH menjelaskan, persoalan itu perlu dijelaskan, karena kami harus minta kasus pembullyian itu tidak ditutup-tutupi.

“Kita ingin memberikan edukasi yang semestinya, agar masa depan anak-anak tidak terganggu dengan perbuatan bully,” kata dia di Polres Kota Metro tadi sore.

Korban didampingi orangtuanya, kuasa hukum dan kerabat mendatangi Mapolres Kota Metro dengan tujuan agar masalah anaknya yang terdampak psikologis akibat pembullyian kakak kelasnya di SMAN 4 Metro ada pertanggungjawaban yang harus ada.

Kronologis pembullyian terhadap korban siswa kela X oleh kakak kelas XI sudah berlangsung hampir setahun. Baru diketahui, ketika teman-teman korban G datang ke rumah orangtuanya menceritakan hal tersebut dan mereka teman sekelas, siap menjadi saksi.

“Mereka menyatakan siap menjadi saksi kejadian pembullyian terhadap G selam,a ini,” ujar orangtua korban yang juga seorang pendidikan di salah satu perguruan tinggi di Kota Metro.

Korban G, selama ini dibully oleh siswa kelas XI berinisial D berasal dari Seputih Raman/Kotagajah, Lampung Tengah. D sendiri menurut informasinya adalah anak pindahan dari sekolah swasta di Metro ke SMAN 4.

Yang lebih tragis lagi, pembullyian itu kerap dilakukan terhadap G di ruang kelas yang disaksikan siswa lainya, sebagai komandan pembullyan, D tidak segan-segan memukuli G, jika tidak memberikan uang.

Dalam aksinya, D selalu membawa teman lainnya satu kelas untuk menekan G yangt tidak berdaya atas ulah brutal D dan kawan-kawannya.

“Ya, itu sudah sejak lama dilakukan mereka,” tutur korban G saat ditanya.

Sementara itu, pihak keluarga korban sudah berupaya untuk menemui Kepala SMAN 4, namun baru dapat bertemu pada Senin tanggal 18 Mei 2026, berikut pertemuan dengan orangtua D (pelaku bully) di ruang Kepala Sekolah.

Lebih menyedihkan lagi, menurut orangtua korban, dalam pertemuan itu hanya menyampaikan minta maaf, tidak ada surat berita acara yang dibuat oleh kepala sekolah.

“Kalau begitu, apa jaminannya anak saya tidak akan jadi korban pembullyan lagi,” ungkapnya dengan nada menahan amarah.

Sebelum dilaporkan ke Polres, pihak SMAN 4 Metro melalui Humasnya membenarkan pembullyian tersebut. Namun, ditambahkannya bahwa pihak sekolah gak mungkin dapat mengawasi setiap detik anak didik. Bahkan, ungkap Kabag Humas SMAN 4 itu, pihak sekolah memiliki banyak CCTV, akan tetapi anak didik sering merusak CCTV atau mereka putar-putar hingga tidak berfungsi.

Penjelasan itu terlihat kurang membantu penyelesaian kasus pembullyian tersebut.

Kadisdik Provinsi Lampung, Thomas Americo dihubungi via ponsel dan pesan WA mengatakan pihaknya akan segera melakukan pengecekan dan memanggil Kepala SMAN 4 Metro, untuk diminta keterangan.

Ketika disampaikan ada persoalan di SMAN 4, Kadisdik minta dikirim data, dan berjanji akan turun sendiri melakukan pengecekan.

“Nanti saya cek,” ujarnya via pesan WA.

Di sisi lain, beberapa tokoh masyarakat saat diminta komentarnya atas kejadian di SMAN 4 mengakui pihak sekolah lalai dan teledor banget, sehingga pembullyian dapat berjalan mulus selama kurang lebih setahun.

dua hari lalu, salah satu oragtua pelaku berinisial K, datang ke rumah keluarga korban dengan mengatakan, anaknya (K), selama ini disuruh membawa dagangan.

“Jadi, saya kurang tahu perbuatan mereka di sekolah,” tuturnya di rumah keluarga korban.

Sedangkan orangtua kandung pelaku D dalam pertemuan di SMAN 4 tadi siang, menurut orangtua korban hanya menyampaikan kata maaf, selanjutnya dia menyerahkan sepenuhnya kepada keluarga korban.

“Keadaan itu membuat orangtua korban dihadapkan kepada masalah rumit, karena tidak ada titik temunya,” ungkap keluarga korban.

Dari kasus pembullyian di SMAN 4 Metro itu, banyak yang janggal terutama peran dan fungsi para pendidiknya selama proses belajar mengajar setiap harinya. Karena kasus pembullyian disertai kekerasan itu sudah terjadi sejak lama.

(Tim).