Bandarlampung, (Radarnews.id)- Dalam sidang paripurna istimewa DPRD Lampung Hari Ulang Tahun ke-58 Provinsi Lampung, Jumat (18/3) lalu
Almarhum Ir Marzuli Warganegara ditetapkan sebagai Pahlawan Daerah Perintis dan Pembina Olahraga Lampung.
Ketua DPRD Lampung Mingrum Gumay memimpin rapat paripurna serta dihadiri Gubernur Arinal Djunaidi, Wakil Gubernur Chusnunia Chalim dan sejumlah tamu undangan.
Pengusulan Ir Marzuli Warganegara menjadi Pahlawan Daerah Perintis dan Pembina Olahraga Lampung dilakukan ahli waris sejak 2021. Kemudian, ditetapkan melalui Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD).
Sebelum ditetapkan, Dinas Sosial Lampung mengadakan Forum Group Discussion (FGD) usulan gelar pahlawan daerah an. Ir. H. Marzuli Warganegara, berlangsung di Wood Stairs Cafe, 26 Februari.
FGD dihadiri oleh Ketua Dewan Gelar Daerah (DGD) Muhammad Yusuf Barusman, MBA, Wakil Ketua DGD Brigjen TNI (Purn) Toto Jumariono, anggota DGD Moh. Mukri dan Supriyadi Alfian serta Ketua TP2GD Maskun.
Selain itu, hadir perwakilan dari Dinas Kominfotik, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung, Biro Hukum, Biro Kesra, Setda Provinsi Lampung serta ahli waris.
Berdasarkan hasil penelitian dan pengkajian, Marzuli Warganegara dinyatakan layak untuk menjadi Pahlawan Daerah dan Yusuf Barusman merekomendasikan ke Gubernur Lampung
Kepala Dinas Sosial Provinsi Lampung, Aswarodi mengatakan, nama Marzuli nantinya akan digunakan sebagai nama gedung olahraga dan tengah dikoordinasikan dengan Dinas Pemuda dan Olahraga.
Di era 1990-an, saat Lampung dipimpin Gubernur Poedjono Pranyoto, Lampung mengibarkan bendera sepak bola di papan tengah Liga Utama Indonesia selama lima musim kompetisi.
Bakat pesepak bola tim berjuluk Gajah Lampung digodok Marzuli di dua tempat yakni Lampung Selatan (sekarang Pesawaran, tepatnya Gedongtataan) dan Lampung Tengah.
Lampung mencapai masa keemasan sepak bola pada PON X 1981. Marzuli mengantarkan Tim Gajah Lampung meraih emas. Padahal saat itu, Lampung dianggap underdog oleh tim-tim unggulan dari Jawa dan Sumatera Utara.
Dia ditetapkan sebagai Pembina/Penggerak Olahraga Terbaik Nasional 1978–1979. Namun dia tetap merasa kesulitan mengembangkan sepak bola Lampung. Faktornya, karena sistem kompetisi yang teratur belum berjalan maksimal.
Namun, klub sepakbola Jaka Utama kini tinggal kenangan. Sebab, klub tersebut terpaksa dibubarkan karena dicederai kasus suap mengatur skor pertandingan. Marzuki dan para pecinta sepakbola merasa kehilangan.
Selain sepakbola, Marzuli meninggalkan kenangan indah di cabang tinju. Gelaran pertarungan adu jotos itu memperebutkan Sarung Tinju Emas (STE). Pencetusnya seorang wartawan olahraga Sumohadi Marsis, dan kawan-kawan pada 1975. Nah, Piala Sarung Tinju Emas itu sumbangan dari Marzuli.
Ironisnya, event setahun sekali yang banyak melahirkan jago-jago tinju nasional, seperti Syamsul Anwar Harahap, Welhellem Gomies, dan Frans V.B. itu tidak pernah lagi memperebutkan Piala STE setelah dinyatakan hilang.
Selain itu, masih banyak torehan mendali yang dibawa putra putri Lampung hasil binaan Marzuli Warganegara. Pria kelahiran Tanjung Karang, 4 Maret 1939 ini wafat di Jakarta pada 23 Juli 1996 diusia ke 57 tahun.
(Han).

