Beranda Jakarta Putri Indonesia Tak Hapal Pancasila di Mata Seorang Jurnalis

Putri Indonesia Tak Hapal Pancasila di Mata Seorang Jurnalis

418
BERBAGI

Jakarta (Radarnews.id) – Pada 07/03/2020. Ajang kompetisi pemilihan putri indonesia 2020 tadi malam mempertontonkan salah satu perwakilan dari propinsi sumatera Barat , LOUISE KALISTA ISKANDAR ketika di minta untuk menyebutkan pancasila oleh team penilai di ajang ini ternyata sang putri indonesia ini gagal serta membaca pancasila dengan amburadul .

Terutama di sila ke empat dan kelima sedangkan di awal saja sudah kelihatan tak kenalnya dia dengan pancasila .Yaitu ketika memulai membaca saja dia tidak menyebut dulu ” PANCASILA , tetapi langsung menyebut nomor 1. Hal ini sangat membuat geram seluruh rakyat indonesia ,terutama sumatera Barat.

” Sebenarnya di sinilah kita menilai betapa lemah serta tak mendidiknya sebuah tontonan yang dipersembahkan oleh sang putri asal sumatera barat ini”,ujar efrizal salah satu masyarakat asal sumbar yang juga seorang jurnalis.

” Saya rasa manusia itu semua sama dan sangat banyak kekurangan dan kelebihan, tapi dalam hal kompetisi apa pun alasan nya dalam sebuah kompetisi tak berlaku. Apa lagi alasan nearves atau gugup karna sudah sampai di group 6 besar. Jadi saya menilai dia memang kurang hapal dengan pancasila,” ujar efrizal lagi

Tapi jangan hal ini di jadikan sebagai bentuk alat atau sesuatu unruk memperkeruh suasana, apalagi sampai menjurus ke sara serta perpecahan. Karna dengan maraknya postingan kejadian ini di berbagai media sosial dengan beragam penilaian netizen, sampai ada yang membawa keranah politik,” kata nya lagi Jadi marilah kita jadikan ini sebagai sebuah cambuk buat lebih baik kedepan nya.karna kompetisi ajang pemilihan putri indonesia bukan sekedar berwajah cantik dan menarik saja, tetapi harus hapal apa dan bagaimana yang di sebut indonesia,” ungkapnya.

Dan buat seluruh bangsa indonesia dengan segala kemutakhiran digital serta informasi saat ini, tentu kita berharap bijak mengunakan medsos jangan sampai di jadikan ajang pemecah belah ras dan agama. Serta saling memojokkan satu kelompok maupun individu nya sendiri,” tutup efrizal.