Blitar, (RADARNEWS.ID)-Kabupaten Blitar merupakan salah satu kabupaten di wilayah selatan Provinsi Jawa Timur yang menyimpan potensi perikanan yang luar biasa, baik perikanan budidaya maupun perikanan tangkap. Koi adalah salah satu potensi perikanan budidaya yang menjadi ikon dan juga kebanggaan warga Kabupaten Blitar.
Hampir disetiap kontes ikan koi baik tingkat lokal maupun nasional, koi dari Blitar selalu berhasil menunjukkan taringnya dengan menjadi juaranya.
Koi Blitar memiliki keunggulan dan keunikan bila dibandingkan dengan koi dari daerah lain yaitu warna yang tajam dan tebal.
Pada saat pandemi COVID-19 seperti sekarang ini, dimana ekonomi cenderung melambat dan nilai beberapa komoditas turun, penjualan koi justru menunjukan tren sebaliknya. Koi Blitar semakin laris di pasaran dan harganya juga meningkat.
Selain menyimpan potensi yang luar biasa, ternyata ada kendala yang menjadi masalah bagi para pembudidaya koi di wilayah Kabupaten Blitar yang bisa mengancam keberhasilan budidaya koi bahkan bisa menyebabkan gagal panen.
Kendala tersebut adalah kejadian penyakit pada ikan koi. Pak Suri, salah satu pembudidaya koi di Desa Gandusari Kecamatan Gandusari mengatakan bahwa saat ini yang menjadi kendala yang paling ditakuti bagi para pembudidaya adalah kejadian penyakit.
Beliau pernah mengalami kerugian puluhan juta disebabkan ikan koi saya yang sudah berukuran 35 sampai 40 cm mati karena busuk insang. Oleh karena itu beliau mengharapkan adanya bantuan dan campur tangan pemerintah untuk mengatasi masalah tersebut.
Berangkat dari permasalahan tersebut, Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Blitar melalui Bidang Budidaya Perikanan memberikan solusi untuk mengatasi keluhan para pembudidaya ikan khususnya ikan koi.
Kepala Bidang Budidaya Perikanan, drh. AM. Andjari Laksmayoni mengatakan bahwa langkah pertama yang perlu dilakukan untuk mengatasi masalah penyakit ikan adalah identifikasi penyebab terjadinya penyakit ikan tersebut.
Dengan diagnosa penyakit ikan yang tepat maka akan dapat di ketahui cara yang paling efektif untuk melakukan penanggulangan dan pengobatan, sehingga kerugian yang diderita pembudidaya ikan dapat diminimalisir. Disinilah peran laboratorium kesehatan ikan dan lingkungan budidaya sangat diperlukan
Lebih jauh, Kepala Seksi Kesehatan Ikan dan Pengendalian Mutu, drh. Rizal Java Kurniawan menjelaskan bahwa penyebab kejadian penyakit ikan di Kabupaten Blitar lebih banyak diawali oleh adanya kualitas air yang kurang baik, faktor ph dan amoniak yang tinggi masih menjadi penyebab dominan kasus kejadian penyakit ikan.
Karena kualitas air yang kurang baik ini, bahkan cenderung buruk, ikan akan mengalami stress sehingga bibit bibit penyakit akan berkembang dengan cepat dan menyebabkan infeksi penyakit ikan yang pada akhirnya menyebabkan kematian.
Salah satu faktor penting dalam usaha penanggulangan penyakit ikan adalah dengan cara pencegahan, kejadian penyakit ikan dapat dicegah dengan cara memelihara kualitas air. Dengan kualitas air yang aik dan terjaga, ikan tidak akan mudah stress sehingga kejadian penyakit ikan tidak akan muncul.
Laboratorium Kesehatan Ikan dan Lingkungan Budidaya Kabupaten Blitar hadir untuk melayani masyarakat khususnya pembudidaya ikan untuk melaksanakan pengujian kualitas air (pH, Amoniak, Nitrit, Nitrat, Oksigen Terlarut, TDS, PO4, Fe) dan juga identifikasi penyakit ikan (jamur, parasit, bakteri). Masyarakat bisa langsung datang ke laboratorium kesehatan ikan dan lingkungan budidaya yang berada di Jl. Sudanco Supriyadi No. 76 Blitar dengan membawa sampel air kolam dan ikan yang sakit atau juga bisa menghubungi petugas laboratorium untuk melaksanakan pengujian langsung di kolam menggunakan mobil laboratorium.
Pelayanan mobil laboratorium ini adalah salah satu inovasi terbaru dari Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Blitar untuk lebih menjangkau masyarakat dan lebih memaksimalkan pelayanan kepada masyarakat. Dan para pembudidaya tidak perlu khawatir memikirkan biaya pengujian
laboratorium karena semua pelayanan yang diberikan adalah cuma cuma atau gratis.
(yono).



